Loading...
Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts

Saturday, June 19, 2010

ART AND SOLE

art_sole_01.jpg

Book Review:

Art & Sole: Contemporary Sneaker Art & Design, by Intercity

THIS IS AN ARTICLE FROM CORE77
Let me disclaim one thing before I get into the beautiful details of reviewing Art & Sole: Contemporary Sneaker Art & Design; I'm profoundly unhip. Even though I visited my grandmother in NYC on a yearly basis and spent a few years of grade school in Asia, I spent high school in Nebraska, so my insecure trend-following formative years were a world away from city graffiti or Tokyo fashion. That said, Intercity's Art & Sole blew me away. For those of you like Turtle on Entourage who relentlessly follow tiny variations (and limited editions) of sports-themed footwear guaranteed never to see a basketball court, you have my deepest apologies if I confuse an Air Max 90 for a 95. But for the rest of us, Art & Sole should be an eye-opening visit to the wild nexus between commerce, guerilla art, mass production and customization that is limited edition sneaker design.
art_sole_05.jpg
Art & Sole is divided into two parts: "Sneakers & Art" and "Art & Sneakers" (I thought four ampersands in one sentence might be a few too many). Despite the palindrome, the titles are pretty self-explanatory. "Sneakers & Art" showcases collaborations between artists and sneaker manufacturers. Much of the work consists of vivid graphic art applied to the (occasionally literal) canvas of a major brand sneaker, but some of it showcases the very leading edge of industrial design: laser etching, CNC stitching and algorithmic patterns. Both the one-offs and the oxymoronic mass-customization series impress with beautiful photos and succinct and clear explanatory prose for those of us who don't recognize names of sneaker designer / graffiti artists like Futura 2000, but also of some surprise footwear icons like John Maeda. The second part, "Sneakers & Art" includes sneaker inspired 2-D art that, while cool, shouldn't be nearly as interesting to industrial designers as some one off custom jobs like Takara Tomy's Nike Transformers, fully articulated transformable sneakers. Just as amazing as the content of the book is the fact that Intercity managed to catalog and photograph hundreds of customized sneakers, many of which were produced in extremely limited runs, and all of which appear to be in spotless condition. For anyone interested in where popular fashion is headed, and where industrial design is likely to follow, Art & Sole represents quite a catalog of possibilities.
art_sole_02.jpg
Art & Sole provides an insiders view into a subculture I'm not very familiar with (though it's still easy to admire the beautiful panoramic line art of Katsuya Terada's tattooed Air Zooms), but none of the shoes provoked buyers lust for me. To those insiders who dream of wearing the newest, most limited kicks, however, Art & Sole is guaranteed to be a near-fetishistic compendium. I hope, however, that not every reader takes it quite as far as INSA's Sneaker Fetish art work, which manages to combine foot fetishism, sneaker consumerism and the female form. I'm not sure that the level of rampant consumerism he's commenting on is quite healthy, but I'm totally thrilled that the customization movement is making people really care and think about their possessions. Now if we could only get them to take their kicks out of the box and actually put them on their feet รข€¦
art_sole_03.jpg
art_sole_04.jpg
For me, it isn't the Tom Luedecke's gorgeous laser etched Nike's, or even I Have Pop's Concrete Dunks (so real you can only tell the material from the chipped bits) that impress me, but that big brands like Nike and Adidas have received that Midas touch of legitimacy. I don't quite know whether to be dismayed that rebel art forms like graffiti or skateboarding have been co-opted by corporate America, or thrilled that antiestablishment icons are finally getting their dues. The work in Art & Sole provides a microcosm of fashion through which to gaze upon consumer trends. I'm sure product design will follow. It's tough to know who's stolen who's thunder or whether Basquiat would be happy to see his work on the side of a Reebok. I presume his estate is pretty happy. But what I do know for sure is that a reissue of Adidas Adicolor blank white shoes complete with markers for the user to color with presents an opportunity for ownership and participation in product design that's sadly rare in our throwaway society.
art_sole_06.jpg
THIS IS AN ARTICLE FROM CORE77
Toni A. | 2010-06-20

Pop Art dalam Wikipedia Bahasa Indonesia…

mana pop art-nya

Eh, tahu enggak apa yang terjadi saat aku mencari kata POP ART di Wikipedia dalam bahasa Indonesia untuk menemukan artinya?… Check this out!

Halaman ini telah dihapus. Sebagai referensi, berikut adalah log penghapusan dan pemindahan halaman ini.

Huwadauuww!!, gimana sih ini. kok parah banget ya? bukan mau mengkritisi orang Indonesia, aku pun Indonesia juga. tapi gimana critanya sampek vandalisme semacam itu bisa masuk bahkan di situs raksasa literatur macam WIKI…. duh, jadi ngeganjel juga nih rasanya jadi insan yang berkutat di bidang POP ART dan enggak memberikan kontribusi jelas untuk menuliskan sesuatu tentang hal itu di Wikipedia. masalahnya aku ini termasuk orang baru di dunia ke Pop Art-an, gak tahu banyak hal kesenian yg satu ini. lha wong menurutku seni itu pokoknya yang enak diliat. ….heheeee, brarti Nicole Kidman dan Angelina itu seni ya?... whose nose?…. [who knows maksudnya]

so, aku pikir harus ada yg memulainya untuk menuliskan sesuatu disana, setidaknya sedikit saja cukup untuk melengkapi kebutuhan orang yang berbahasa Indonesia dan sekaligus yang ingin tahu apa itu Pop Art…. well, berarti kesimpulannya aku bikin PR buat diriku sendiri nih??? olalaa mammmaaaaa!! :(

toni thumb 3 by Toni A. | 2010-06-20

Thursday, June 10, 2010

WHAT IS POP ART?

Seni Pop adalah sebuah gerakan seni yang muncul pada tahun 1950 pertengahan di Britania dan di akhir 1950-an di Amerika Serikat. Pop seni menantang tradisi dengan menegaskan bahwa menggunakan artis komoditas visual yang diproduksi secara massal budaya populer yang berbatasan dengan perspektif seni rupa.
Pop menghapus materi dari konteks dan isolat objek, atau menggabungkan dengan obyek lain, untuk kontemplasi Konsep pop art tidak sebanyak merujuk pada seni itu sendiri sebagai dengan sikap yang mengarah ke sana. seni Pop adalah sebuah gerakan seni abad kedua puluh. Dicirikan oleh tema dan teknik yang diambil dari kebudayaan massa populer, seperti iklan, buku komik dan benda-benda kebudayaan duniawi, pop art secara luas ditafsirkan sebagai reaksi terhadap gagasan dominan kemudian-ekspresionisme abstrak, serta ekspansi pada mereka Pop seni, bertujuan untuk menggunakan gambar-gambar populer sebagai lawan dari budaya elitis dalam seni, menekankan unsur dangkal atau kitschy dari setiap budaya tertentu, paling sering melalui penggunaan ironi. Hal ini juga terkait dengan menggunakan seniman 'dari mekanik sarana reproduksi atau teknik rendering.
Banyak seni pop dianggap tidak sesuai, sebagai praktik konseptual yang sering digunakan menyulitkan beberapa untuk mudah memahami. Pop seni dan minimalisme dianggap seni gerakan yang mendahului seni postmodern, atau adalah beberapa contoh awal dari postmodern Seni diri.
Pop seni sering mengambil sebagai citra perusahaan yang saat ini sedang digunakan dalam iklan. Produk pelabelan dan logo sosok menonjol dalam citra yang dipilih oleh seniman pop, seperti di kaleng itu Campbell's Soup label, oleh Andy Warhol. Bahkan label pada kardus yang berisi barang-barang eceran pengiriman telah digunakan sebagai subjek dalam seni pop, misalnya dalam Campbell Warhol's Tomat Juice Box 1964, (digambarkan di bawah), atau nya Brillo Kotak Sabun patung. 


Asal
Asal-usul seni pop di Amerika Utara dan Britania Raya yang dikembangkan berbeda. Di Amerika, ditandai kembali ke komposisi keras bermata dan seni representasi sebagai respon para seniman menggunakan impersonal, realitas duniawi, ironi dan parodi untuk meredakan personal simbolisme dan "kelonggaran painterly" dari Abstrak Ekspresionisme. Sebaliknya, asal pasca-Perang Britania, sementara menggunakan ironi dan parodi, lebih akademis dengan fokus pada citra dinamis dan paradoks budaya populer Amerika sebagai kuat, perangkat simbolik manipulatif yang mempengaruhi seluruh pola hidup, sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat awal seni pop di Britania adalah masalah ide yang didorong oleh budaya populer Amerika dilihat dari jauh, sementara para seniman Amerika terinspirasi oleh pengalaman hidup dalam budaya yang Demikian pula., baik pop art adalah perpanjangan dan penolakan dari Dadaism. Sementara pop art dan Dadaism dieksplorasi beberapa subyek yang sama, pop art menggantikan impuls destruktif, menyindir, dan anarkis dari gerakan Dada dengan penegasan terpisah dari artefak budaya massa.

Di antara mereka terlihat oleh beberapa seniman bekerja sebagai memproduksi mengarah ke Pop seni. adalah Pablo Picasso, Marcel Duchamp, Kurt Schwitters, dan Man Ray.


 Resource : Wikipedia

Wednesday, June 9, 2010

KISAH PENEMUAN WPAP - PART 2

Di dalam proses manual saya menemukan cara yang mudah dan semakin mudah. Tapi semakin mudah cara yang saya temukan, saya semakin ragu untuk mengatakan bahwa apa yang saya hasilkan ini cukup bernilai untuk disebut sebagai karya seni. Walaupun pada kenyataannya karya saya ini mulai digemari pembaca, bahkan pada beberapa kesempatan banyak musisi dunia mengagumi karya saya. Grup Scorpion, Metallica atau James Ingram adalah beberapa nama yang masih saya ingat, tetap saja saya menganggapnya hanya sebagai karya yang paling mudah membuatnya untuk memenuhi tugas saya sebagai illustrator.


Kalau saya merasa mudah, tentu banyak orang yang akan menganggapnya begitu. Kalau prosesnya mudah tapi hasilnya cukup menarik, tidak mustahil para perupa lain sudah lebih dahulu menekuninya sebelum saya. Perasaan inilah yang membelenggu saya untuk tidak mempublikasikannya secara luas, kecuali untuk pengisi halaman 3 majalah saya. Bahkan perasaan ini nyaris mengkristal ketika seorang teman mengkritik saya sebagai seorang yang berkesenian secara akal-akalan.

Syukurlah, memasuki tahun 2007, beberapa orang kenalan berhasil meyakinkan saya bahwa mereka sampai sekarang masih menyukai dan merasa kangen dengan tampilnya lagi karya yang pada mulanya saya beri nama Foto Marak Berkotak itu. Bahkan ada pemerhati karya saya yang telah lama ingin menemui saya untuk menuntaskan rasa penasarannya pada karya saya. Ya, mereka yang sejak duduk di bangku sekolah menyukai karya saya, telah secara perlahan mencairkan belenggu yang saya ciptakan sendiri.

Puncaknya terjadi pada hari Jum’at 22 juni 2007. Seorang Ketua jurusan DKV Universitas Multimedia Nusantara bernama Gumelar yang hari itu sengaja saya temui, mengatakan bahwa beliau yang sudah melanglang jagad itu baru kali ini melihat karya semacam karya saya. Saya layak melabelkan gaya ini sebagai gaya Wedha, lanjutnya, dan bahkan saya berkewajiban untuk meluaskan gaya saya ini (yang dikatakan sebagai terobosan baru) dalam bentuk buku kepada semua orang, agar ada yang melanjutkan kelak bila saya sudah tiada. Terimakasih saya yang teramat dalam kepada semua pemerhati karya-karya saya, khususnya Ade Darmawan, direktur komunitas Ruang rupa, Meniek, Pak Gumelar, Pak Djoko Hartanto dan rekan kerja saya, Angky Astari.

[ PREVIOUS - PART 1]                      [ CONTINUED TO PART 3 ]

KISAH PENEMUAN WPAP - PART 1

Oleh: Wedha
gaya ini saya mulai pada sekitar tahun 1990-1991. Memasuki usia 40 tahun, terlahir 10 Maret 1951, ketika itu saya sudah merasakan menurunnya fungsi mata saya. Ditambah lagi sebagai seorang yang kurang sekali mengindahkan gaya hidup sehat, saya mulai merasa terlalu cepat lelah. Kendala fisik itu mulai mengganggu setiap kali saya harus menyelesaikan gambar, apalagi gambar sosok manusia realis yang menurut saya bertingkat kesulitan paling tinggi. Memilih dan mencampur warna menjadi hal yang menyulitkan. Kemiripan warna kulit manusia, kehalusan goresan, menjadi sesuatu yang mahal buat saya.
Dalam keadaan seperti itulah kemudian saya mulai memikirkan cara melukis atau menggambar wajah manusia dengan cara yang lebih mudah. Cara yang memungkinkan saya menghindarkan diri dari keharusan mengolah warna kulit manusia yang sulit, cara tanpa tuntutan ketrampilan yang memadai untuk memulas.



Saya yang sejak masa sekolah sangat menyukai pelajaran ilmu ukur ruang (stereometri), mulai mengutik-utik masalah titik, garis dan bidang. Mulailah saya membayangkan wajah manusia sebagai kumpulan bidang-bidang datar yang dibentuk oleh garis-garis imajiner.


Cukup panjang proses yang saya lalui sebelum mendapatkan bentuk dan cara membuatnya seperti yang sekarang. Tapi perjalanan itu saya tapaki dengan antusias karena semakin lama perjalanan itu semakin memberi keyakinan akan tercapainya apa yang saya inginkan. Cara memprosesnya juga mengalami perubahan yang signifikan. Cara manual dan cara yang menggunakan komputer. Perlu diketahui, pada waktu itu sekitar tahun 1990-1991, komputerisasi belum merata menjamah majalah tempat saya berkarya. Saya sendiri baru mengenal komputer sekitar tahun 1998.





What is Pop Art?

Get to Know Pop Arts is, From the time this style become so popular until today

Kisah Penemuan WPAP

Jalan panjang Pakde Wedha Menemukan Teknik WPAP

THIS-IS-FEATURED-POST-3-TITLE

FEATURED-POST-3-DESCRIPTION

THIS-IS-FEATURED-POST-4-TITLE

FEATURED-POST-4-DESCRIPTION

THIS-IS-FEATURED-POST-5-TITLE

FEATURED-POST-5-DESCRIPTION